Masa Depan Anak yatim Aceh

ACEH BESAR − The Child Called It, karya Dave Pilzer menggambarkan cerita seorang anak yang senantiasa berada dalam penderitaan dan kekerasan. Buku yang kemudian banyak menginspirasikan para penulis untuk bercerita tentang aneuk yatiem Aceh dan masa depannya.

Bulan Muharram telah berlalu, warga betawi di Jakarta biasa menyebutnya bulan anak yatim, dimana pada bulan ini banyak pihak merasa peduli dengan keberadaan anak yatim, salah satu caranya adalah dengan memberikan santunan. 

Tapi tentunya anak yatim ini tidak hanya hidup sehari atau dua hari, mereka membutuhkan perhatian sepanjang tahun, sama seperti anak−anak yang lain. Aceh pasca tsunami berlalu, banyak bermunculan LSM lokal maupun asing yang peduli pada keberadaan mereka sebagai bagian masyarakat yang harus dilindungi dan dihargai.

Ketika kita berbicara tentang yatim mungkin bagi sebagian orang, ini bukan wacana besar yang harus dipikirkan mendalam, karena banyak anggapan dari masyarakat kita bahwa yatim adalah masyarakat kelas dua (the second class) yang hanya merepotkan kehidupan keluarga normal. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang tidak mempunyai bargaining position, atau daya tawar kepada masyarakat.

Betapa tidak, pada dasarnya pemerintah mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap keberadaan anak−anak yatim ini. Bisa digambarkan bahwa sebenarnya di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam permasalahan anak yatim adalah bukan masalah baru, karena fenomena hadirnya anak−yatim bukan hanya muncul pasca musibah tsunami melanda, tetapi jauh sebelum itu juga banyak anak−anak yang menjadi yatim akibat konflik dan kekerasan yang melanda bumi serambi Makkah ini.

Kondisi Psikologis Yatim
Permasalahan anak yatim di aceh adalah permasalahan yang penuh kompleksitas, mereka menjadi yatim bukan sekedar ditinggal orang tua karena meninggal secara wajar, tetapi kebanyakan mereka ditinggalkan orang tua karena peristiwa yang sangat menggangu kejiwaan mereka. 

Banyak anak yatim yang melihat dengan mata kepalanya sendiri orang tua mereka meninggal karena kekerasan dan penganiyaan orang lain, terlebih musibah Tsunami yang menyisakan ingatan yang mendalam terhadap mereka, dan banyak dari mereka yang tidak sempat bertemu dengan orang tuanya atau tidak tahu makam orang tua mereka, atau bahkan belum pernah bertemu dengan dengan orang tuanya karena sudah ditinggal sejak mereka kecil.

Tak heran jika kemudian banyak bermunculan fenomena anak−anak hiperaktif (untuk tidak dikatakan bandel atau nakal) yang sebenarnya banyak membutuhkan perhatian lebih dari para Pembina, pengasuh atau guru mereka

Banyak peran strategis dan sinergis yang yang bisa dijalankan antara beberapa pihak. Sebagai contoh nyata adalah keterkaitan antara pihak pengelola yatim dan juga dunia pendidikan. Sebagai contoh nyata adalah harus adanya perhatian lebih dari pihak sekolah guru dalam hal ini misalnya, untuk lebih mendalami permasalahan psikologis anak−anak.

Dari pengalaman memang bermunculan anak−anak yatim yang mengalami ketertinggalan dalam dunia sekolah, seperti kemampuan membaca dan menulis. Ketika kita berpikir tentang pendidikan formal, secara umum mereka memang mempunyai kesempatan yang sama, dan banyak pihak yang sanggup untuk memberi dukungan financial untuk memasuki jenjang SD sampai setaraf SMU, yang kemudian muncul adalah kemana pasca sekolah.

Mungkin ada dari mereka yang sanggup melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi itu hanya sebagian kecil, yang banyak adalah mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja untuk kemandirian mereka yang memang tidak bisa menggantungkannya kepada orang lain.

Aceh pasca tsunami banyak difokuskan pada pembangunan perumahan, hanya sedikit pembangunan fasilitas pendidikan yang mengarah pada peningkatan kemampuan skill anak yang mempunyai link and match dengan dunia kerja. Selama ini mungkin hal ini sudah dicover oleh adanya sekolah kejuruan. Tetapi peningkatan keterampilan ini tidaklah cukup ditangani oleh lembaga formal sekolah.

Hal ini dapat diatasi dengan peningkatan sarana untuk peningkatan kemampuan siswa. Sebagai contoh nyata adalah pembangunan (BL:K) Balai Latihan Kerja yang selain dikondisikan dengan budaya lokal dan juga dunia kerja. Ada beberapa alternative yang bisa dijalankan adalah pembangunan BLK Komputer, Bahasa, Industri Las atau menjahit, perkapalan, asalkan hal itu dikelola secara profesioanal dan dijalankan oleh orang−orang yang amanah, Insya Allah banyak generasi Aneuk Yatim khususnya dan Aceh umumnya mempunyai masa depan yang baik. 

Selain contoh nyata tersebut, tentu banyak hal, dan ragam yang bisa dilakukan oleh para stake holder, baik NGO, Pemerintah dan penanggung jawab proses Rekonstruksi Aceh tercinta. (Mukhlis Raya/PKPU Aceh)

11.58 | Posted in | Read More »

Arsip

Labels

Recently Commented

Recently Added